Minggu, 20 Januari 2013

Percakapan V

28 desember 2012, 23.16

L :
Tak ku rasakan sinar purnama malam ini..

29 desember 2012, 20.45

L :
bias sinarnya masih terhalang kabut

1 januari 2013, 20.37

A :
masihkah kau menunggu purnama itu
sedang bias tetap terhalang kabut
kemudian dingin menguasai malam
sedangkan jarak semakin merekah?
masihkah?

21.00

L :
ya, tak ragu ku menunggu,
hingga langit memerah
dan kembali padam

21.02

A :
maka tetaplah menunggu
sedang aku berusaha faham mengapa purnama,kabut,langit tak faham..

21.12

L :

biarlah mereka tak mengerti, ketabahanku yang akan menjawab bincang-bincang antara bintang..

Tentang terik....!

Peluh basuh tubuh menyeluruh,
Perlahan mengalir mengikuti lekuk tubuh, jatuh.....
bercucuran bak gerimis menyiram debu,

Dari : Hassanudin

hei malamku

Hey malamku, balut aku dalam buaian mu..
Dalam sayup-sayup merdu kesunyian,
dalam bisik bayu yang hembuskan mimpi-mimpi dalam tidurku.
Wahai malam ku, jangan kau biarkan rembulan menenggelamkan gelap mu...!
Dan biarkanlah aku berselimut dalam gelap mu..

Dari : Hassanudin

terbakar, basah, sama yang ditanah retak,.!

dalam tubuh ini mengalir berjuta cinta, dan di dalam setiap nadi-nadi, darah telah tercampur oleh kasih yang tiada mendua, ciptakan kerinduan yang terus meronta...! di setiap detik tercipta, berjuta hingga tak terhingga, memaksa ingin jumpa di saat waktu tak tersisa, hingga hanya fana yang kuraba tuk redam bara yang takpernah reda..! Wahai cinta, yang tak terlupa..
ingin ku teguk air surga di setiapjumpa..
Wahai kasih, tetaplah memutih....
abadi hingga di pelukan ilahi...

dari: Hassanudin

Kamis, 27 Desember 2012

Percakapan IV

20 desember 2012, 21:47 wib

L :
Hahaha, Sayang tak ku temukan jejak mu di dermaga tempat kau berlabuh..

A [22:00 wib] :
mengapa tak kau sisir pantai,lalu kau ikuti bau laut..ikuti dan bertanyalah

L [22:00 wib] :
Sudah ku sisir seluruh tepian pantai, dan tak ada seorang pun tuk ku bertanya, hanya ada tumpukan pasir dan kerikil di antara nyiur yang gugur...!

[...]

percakapan III

26 desember 2012,23:41 wib

L :
di puncak bukit itu..
tersentuh awan, dan seakan ku dapat menggapai langit dan isinya

27 desember 2012,17:03 wib

A :
genggam lalu sembunyikan kelu dalam sakumu
kemudian ceritakan kembali ttg bukit itu

L [20:41 wib] :
Di puncak bukit.. kuciptakan lukisan di setiap bebatuan,
tentang ashma alif hingga iya,
dan...!
Tanah-tanah tak lagi merekah, mulai basah tertimpa hujan..
Batu-batu yang ku lukis mulai memudar terkikis,

A[22:23 wib] :
hidup kawan..
maka biarkan air mengalir,alir ke sungai terbawa ke laut
lalu jejakkan kembali nafasmu pada batu batu..
mengapa tidak

 L[22:47 wib] :
Nafas ku telah berhamburan ke udara,
berharap memuai menjadi pelangi setelah hujan mulai reda.

A[22:23 wib] :
kembali pada bukit
kembali pada langit
kembali pada tanah
kembali pada udara
buai aku kembali,ttg desah manusia penunggu hujan

 L[23:19 wib] :
 Angin malam berhembus lembut membelai, dengannya kutitipkan serpihan mimpiku...

A[22:23 wib] :
he ? he eh..
he he beralih eh eh
saat heh berulah he he
eh mangaduh..

[.......]




Percakapan II

8 februari 2012, 19:24 wib

L :
dalam tubuh ini mengalir berjuta cinta, dan di dalam setiap nadi-nadi, darah telah tercampur oleh kasih yang tiada mendua, ciptakan kerinduan yang terus meronta...! di setiap detik tercipta, berjuta hingga tak terhingga, memaksa ingin jumpa di saat waktu tak tersisa, hingga hanya fana yang kuraba tuk redam bara yang takpernah reda..! Wahai cinta, yang tak terlupa..
ingin ku teguk air surga di setiapjumpa..
Wahai kasih, tetaplah memutih....
abadi hingga di pelukan ilahi...

[...]